Wednesday, 1 September 2021

Pentingnya Belajar Fiqih Dalam Beribadah (Mabadi Fiqh Juz 1)


Mata Pelajaran            : Fiqih (Mabadi Fiqh Juz 1)

Materi                          : Najis

Pemateri                      : Ust. Muwato, M.Pd.

 

Najis adalah semua benda yang dihukumi kotor oleh syariat, seperti bangkai, darah, kotoran hewan, dan sebagainya. Islam sangat menekankan kebersihan bagi pemeluknya terutama bila terkena najis.

Rasulullah SAW pernah mencontohkan sahabatnya untuk membuang area yang terkena najis bangkai tikus, diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Maimunah, ia berkata,

 

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ فَأْرَةٍ سَقَطَتْ فِي سَمْنٍ فَقَالَ أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوهُ وَكُلُوا سَمْنَكُمْ

Artinya: "Dari Ibnu Abbas dari Maimunah bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang bangkai tikus yang jatuh ke dalam lemak (minyak samin). Maka Beliau menjawab, "Buanglah bangkai tikus itu dan apa yang ada di sekitarnya. Lalu makanlah lemak kalian." (HR. Al Bukhari).

Macam-macam najis itu sendiri dapat dibedakan menjadi 3 macam bila dilihat dari tingkatannya. detikers bisa sebutkan apa saja macam-macam najis dan contohnya?

 

1. Najis Mukhaffaffah

 

Dikutip dari buku yang berjudul Materi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam karya H. Anwar Aziz, Lc, M.Ud, najis mukhaffafah adalah najis ringan yang berasal dari air kencing bayi laki-laki berumur kurang dari 2 tahun dan belum makan apa-apa kecuali, air susu ibu (ASI).

 

Cara menyucikan najis tingkatan ringan ini yaitu membasahi benda yang terkena najis dengan air sampai basah. Tanpa perlu dikucek atau pun diperas. Hal tersebut dicontohkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits berikut,

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَوْلُ الْغُلَامِ يُنْضَحُ عَلَيْهِ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ قَالَ قَتَادَةُ هَذَا مَا لَمْ يَطْعَمَا فَإِذَا طَعِمَا غُسِلَ بَوْلُهُمَا

 

Artinya: "Telah meriwayatkan kepada kami Abdush Shamad bin Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Abu Harb bin Abul Aswad dari bapaknya Ali, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, " Air kencing bayi laki-laki (cara membersihkannya) cukup diperciki air, sedangkan air kencing bayi perempuan dicuci."

 

Qatadah berkata: "Cara seperti ini apabila keduanya (bayi laki-laki dan perempuan) belum makan makanan (selain ASI), akan tetapi apabila telah makan maka air kencing keduanya harus dicuci." (HR. Imam Ahmad).

 

Diriwayatkan oleh Ummu Qois bahwa ia datang dengan seorang bayi laki-laki yang belum makan apa-apa, maka Rasul menempatkan bayi itu di tempat sholatnya. Lalu bayi tersebut kencing dan Rasul memercikkan air ke tempat tersebut tanpa membasuhnya. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

2. Najis Mutawassitah

 

Najis yang kedua ini disebut dengan najis dengan tingkatan sedang. Artinya semua najis yang tidak termasuk dalam najis Mukhaffafah maupun Mugallazah. Contoh najis ini biasanya ditemukan pada air seni serta tinja manusia, bangkai (kecuali ikan dan belalang), dan air susus hewan yang diharamkan.

 

Jenis dari najis mutawassitah terbagi lagi menjadi dua jenis najis, di antaranya:

 

- Mutawassitah hukumiyah, artinya najis yang diyakini wujudnya, tetapi tidak ada bau, rasa, ataupun wujudnya. Misalnya, air seni yang sudah mengering. Untuk menyucikannya cukup disiram air di atasnya.

 

- Mutawassitah 'ainiyah, adalah najis yang masih meninggalkan wujud, bau, maupun rasanya. Cara menyucikannya dengan dibasuh sampai hilang wujud, bau, atau pun rasa. Rasa dikecualikan bila sangat sulit dihilangkan.

 

3. Najis Mughallazah

 

Najis mughallazah artinya adalah najis dengan tingkatan berat. Najis berat adalah suatu materi (benda) yang kenajisannya ditetapkan dalil yang pasti (qat'i).

 

Contoh yang termasuk dalam najis mugallazah yaitu, najis yang berasal dari anjing dan babi (termasuk kotoran dan air liurnya). Cara menyucikannya dengan menghilangkan terlebih dahulu wujud benda najis tersebut. Kemudian, dicuci dengan air bersih sebanyak tujuh kali dan salah satunya menggunakan tanah.

 

Dalil menyucikan najis mughallazah termaktub dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,

 

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِى الإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِى التُّرَابِ

 

Artinya: "Ketika anjing menjilat bejana, maka basuhlah tujuh kali dengan dicampuri debu pada awal pembasuhannya." (HR. Muslim).

Tuesday, 31 August 2021

Belajar Membaca Al-Quran Dengan Alat Kitab Tuhfatl Athfal

 

Mata Pelajaran            : Tajwid (Tuhfatl Athfal)

Materi                          ikhfa 

Pemateri                      : Ust. Luqman, S.H.I.

ikhfa secara bahasa berarti menyembunyikan atau menyamarkan.

Artinya membaca dengan ikhfa sama dengan menyamarkan atau membunyikan beberapa huruf tertentu ke huruf selanjutnya. Cara membaca ikhfa adalah dengan memadukan antara suara nun mati (نْ) atau tanwin (ـًـــٍـــٌ) dengan suara huruf dari salah satu 15 huruf ikhfa yang berada di depannya.

Suara saat membaca bacaan ikhfa biasanya ditahan kira-kira dua sampai tiga ketukan.

Huruf Ikhfa

Berikut ini adalah huruf-huruf hijaiyyah termasuk dalam 15 huruf ikhfa:

- kaf ( ك ),

- qaf ( ق ),

- fa' ( ف ),

- zha ( ظ ),

- tha ( ط ),

- dhad ( ض ),

- shad ( ص ),

- syin ( ش ),

- sin ( س ),

- za' ( ز ),

- dzal ( ذ ),

- dal ( د ),

- jim ( ج ),

- tsa' ( ث ), dan

- ta' ( ت ).

Terkait cara membaca dan jumlah huruf ikhfa pun termaktub dalam nazham dari Kitab Hidayatush Shibyan yang berbunyi:

 

"Bacalah ikhfa apabila ada tanwin dan nun mati bertemu dengan huruf-huruf yang sudah tersebut di muka (15 huruf ikhfa), ketahuilah jumlah huruf-huruf itu 15 huruf,"

Masih mengutip dari sumber yang sama, adapun cara membaca hukum bacaan ikhfa adalah sebagai berikut.

Contoh Bacaan Ikhfa

وَ مِنْ دُوْنِهِمَا جَنَّتٰنِ

Alasan: Nun mati/sukun (نْ) bertemu dengan huruf dal ( د )

 

اِنْ كُنْتُمْ

 

Dibaca: In kunngtum

 

Alasan: Nun mati/sukun (نْ) bertemu dengan huruf kaf ( ك )

 

بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

 

Dibaca: Biqalbinng salimin

 

Alasan: Tanwin ( ـــٍ ) bertemu dengan huruf sin ( س )

 

شِهَابٌ ثَاقِبٌ

 

Dibaca: Syihabunng tsaqibun

 

Alasan: Tanwin ( ـــٍ ) bertemu dengan huruf tsa ( ث )

 

Itulah huruf-huruf yang termasuk dalam huruf ikhfa.

Pentingnya Belajar Fiqih Dalam Beribadah (Mabadi Fiqh Juz 4)


Mata Pelajaran            : Fiqih (Mabadi Fiqh Juz 4)

Materi                          : Air Najis Kurang Dua Kulah

Pemateri                       : Ustazah Qomaria, S.Pd.

najis Mukhaffafah merupakan najis yang tingkatannya ringan. Beberapa contoh yang termasuk najis Mukhaffafah, yaitu air kencing bayi laki-laki yang belum berusia 2 tahun dan madzi atau air mani yang keluar dari kemaluan akibat terangsang.

Meski najis Mukhaffafah ini tergolong ringan, tetapi umat muslim wajib untuk membersihkannya. Jadi, sampaikanlah pada anak mama jika terkena najis Mukhaffafah untuk tetap menyucikan diri, ya.

Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab Akhlak Lilbanin Juz 1)


Mata Pelajaran            : Akhlak (Akhlak Lilbanin Juz 1)

Materi                          : Akhlak di Rumah

Pemateri                      : Ust. Kharisman, S.Pd.I.

Wajib atas seorang Anak untuk Memperhatikan Adab di dalam Rumahnya, dengan Menghormati Kedua Orang Tuanya, dan Saudara-saudara laki-lakinya ataupun kepada Saudari Perempuannya, dab Semua orang didalam Rumahnya, dan tidak melakukan sesuatu yang membuat salah satu dari mereka menjadi Marah, dan tidak membantah saudaranya yang lebih besar serta memusuhi saudaranya yang lebih kecil darinya, dan tidak menyakiti para pembantu, dan apabila bermain maka bermainlah dengan Disiplin, dengan tanpa berteriak-teriak dan tidak bergerak (berlaga) yang tidak sesuai, terutama apabila ada seseorang dirumah yang sedang tidur atau sedang sakit

Dan Memelihara terhadap Alat-alat Rumah, maka tidaklah memainkan Alat-alat Dapur, dan tidak mendobrak Pintu, Merusak Pepohonan, dan apabila ada padanya Kucing atau Ayam, maka hendaknya ia memberi kepadanya Makan-makanan dan Minum-minuman dan jangan Menyakitinya.

Monday, 30 August 2021

Refleksi Sejarah Nabi dan Sahabat (Kitab Akhlak Lilbanin Juz 3)

Mata Pelajaran            :Tarikh (Khulasoh Nurul Yaqin Juz 3)

Materi                          : Pelajaran Ke Duapuluhempat : Apa-Apa Yang Dipelopori ’Umar Radliallaahu ’Anhu

Pemateri                      : Ust. Misbah, S.Pd.I.

 

1. Khalifah ’Umar bin Khaththab ialah orang yang pertama-tama memakai nama Amier Mu’minien.

2 . Beliau adalah orang yang pertama-tama menyuruh meluaskan Masjid Haram dan Masjid Rasul s.a.w.

3. Beliau adalah yang pertama-tama menyuruh mengqunakan Hijriah, yaitu tahun yang dihitung dari mulai Nabi Muhammad hiirah ke Madinah.

4 . Beliau adalah pertama-tama orang yang menyuruh mengadakan catatan pembukuan, untuk mencocokkan keluar masuknya keuangan pemerintah dalam membaqi ganimah bagi pegawai-p'egawainya atas siapc-siapa yanq berhak menerimanya.  

5. Beliau adalah pertama-tama orang yang mendirikan rumah-rumah pertemuan yang mana di situ dipenuhi dengan jaminan-jaminan untuk menolong oranq-oranq yang kehabisan bekal.

6. Beliau adalah orang yang pertama-tama menyelidiki rakyat di waktu malam, mengangkat kadli-kadli dan mendirikan Baitul-Maal untuk harta-harta orang-crang Islam. Beliau bermaksud untuk mengisinya itu diam dari harta zakat, pajak seperlima dari harta jarahan dan harta wansan bagi orang-orang yang tidak mempunyai.

7 . Beliau adalah pertama-tama orang yang menyuruh menjalankan pos, untuk mengantar surat-sirat di antara seluruh wilayah negara.

Pembagian mutada’ dan khabar


August 09, 2021 Agama PMS Kendal No comments

 Mata Pelajaran            : Nahwu (Jurmiyah)

Materi                          : Pembagian mutada’ dan khabar

Pemateri                      : Ust. Ahmad Najih, S.Pd.

 

Mubtada’ terbagi ke dalam dua macam, bisa berupa isim mu’rab atau isim mabni.

Contoh mubtada’ berupa isim mu’rab:

الْوَلَدُ نَشِيْطٌ

اَلْكِتَابُ جَدِيْدٌ

Contoh mubtada’ beruapa isim mabni:

أَنَا طَالِبَةٌ

هَذَا كِتَابٌ

Adapun khabar terbagi ke dalam dua macam, yakni mufrad dan ghair mufrad.

1. Khabar mufrad

Yang disebut mufrad disini bukanlah isim mufrad, melainkan khabarnya hanya terdiri dari satu kata. Contoh:

هَذَا كِتَابٌ

اَلْكِتَابُ جَدِيْدٌ

2. Khabar ghair mufrad

Khabar ghair mufrad terbagi ke dalam dua macam lagi:

a. Syibhul jumlah

Khabar syibhul jumlah bisa berupa jar majrur atau dharaf.

Contoh khabar jar majrur:

اَلْكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ

أَنَا فِيْ بَيْتِيْ

Contoh khabar dharaf:

بَيْتِيْ أَمَامَ الْمَدْرَسَةِ

اَلْمَسْجِدُ وَرَاءَ بَيْتِيْ

b. Jumlah

Khabar yang berupa jumlah (kalimat) bisa terdiri dari jumlah ismiyah (khabar dan mubtada’) atau jumlah fi’liyah (fi’il dan fa’il).

Contoh khabar jumlah ismiyah:

مُحَمَّدٌ خُلُقُهُ حَسَنٌ

أَحْمَدُ أَبُوْهُ مُدَرِّسٌ

Contoh khabar jumlah fi’liyah:

اَلْعُلُوْمُ تَكْثُرُ فَوَائِدُهَا

أَحْمَدُ يَقْرَأُ اْلقُرْأَنَ

Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab Taisir Al-Kholaq)

 

Mata Pelajaran            : Akhlak (Taisir Al-Kholaq)

Materi                          : Adab Muta'allim (Murid)

Pemateri                      : Ust. Setyo Darussalam, S.Pd.I.

 

Bagi seorang murid, ada adab di dalam dirinya sendiri, adab ketika berhubungan bersama guru, dan adab ketika berhubungan bersama saudara-saudarnya (teman-temannya).

Adapun adabnya di dalam dirinya sendiri, maka sangatlah banyak :

Di antaranya adalah meninggalkan sifat ujub (membanggakan diri).

Di antaranya adalah bersifat tawadlu' (rendah hati) dan jujur agar dia menjadi orang yang dicintai dan dipercaya.

Di antaranya adalah bersikap waqar (tenang dan santai) saat dia berjalan,

Memejamkan mata dari melihat perkara-perkara yang haram.

Dia harus menjadi orang yang dapat dipercaya pada ilmu yang disampaikan padanya, sehingga dia tidak memberikan jawaban dengan apa yang tidak dia ketahui.

Adapun adabnya ketika berhubungan bersama gurunya :

Di antaranya adalah meyakini bahwa keutamaan guru lebih besar daripada keutamaan kedua orangtuanya yang diberikan kepadanya, karena sesungguhnya guru mendidik ruhnya.

Di antaranya adalah khudlu' (sopan santun) di depan guru

Duduk dengan adab yang baik di dalam pelajaran guru

Memperhatikan dengan baik pada apa yang dikatakan guru

Di antaranya adalah meninggalkan candaan (gurauan)

Tidak memuji orang lain yang termasuk ulama' di hadapannya, karena dikhawatirkan guru akan memahami bahwa muridnya sedang mencelanya

Di antaranya adalah rasa malu tidak mencegah murid untuk bertanya pada apa yang tidak dia ketahui

Adapun adabnya ketika berhubungan dengan saudara-saudaranya (teman-temannya) :

Di antaranya adalah memuliakan mereka

Meninggalkan sikap meremehkan seseorang dari mereka

Meninggalkan sifat merasa lebih mulia melebihi mereka

Di antaranya adalah tidak menghina mereka karena lambatnya pemahaman mereka

Tidak merasa bahagia tatkala seorang guru menegur sebagian murid yang memiliki pemahaman pendek, karena hal itu merupakan sebab kebencian dan permusuhan.

Menggali Dasar Islam Yang Ke-Dua (Kitab At-Targhib wa At-Tarhib)

Mata Pelajaran            : Hadist (At-Targhib wa At-Tarhib)

Materi                          : Derajat pencsri ilmu mendekati para Nabi

Pemateri                      : Ust. Oko Haryono, S.Ag.

Menuntut ilmu dan menunaikan ibadah merupakan hal yang sama-sama dianjurkan dalam Islam. Meski demikian, keduanya memiliki kedudukan yang berbeda meski sama-sama baik jika ditunaikan.

Dalam kitab Muhammad Sang Teladan karya Abdurrohman As-Syarqawi disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam hadis riwayat At-Thabrani pernah berkata: فضل العلم خير من العبادة “Fadhlul ilmi khairun min fadhlil ibadati.” Yang artinya: “Keutamaan ilmu jauh lebih baik daripada keutamaan ibadah,”.

Hadits ini dikatakan Rasulullah SAW tak lepas dari konteks yang terjadi di masa tersebut. Yakni di saat sahabat-sahabat Nabi banyak yang melaksanakan ibadah dengan cara berlebih-lebihan seperti sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari terus-menerus.

Menyelami Kitab Klasik Aqoid Diniyah Juz 1

Mata Pelajaran            : Aqidah (Aqoid Diniyyah juz 1)

Materi                          : Sifat Allah Wahdaniyah

Pemateri                      : Ust. Ahmad Khosim, S.H.I.

 

Allah SWT hanya ada satu di dunia ini, maka dari itu Dia memiliki sifat wahdaniyah yang berarti tunggal atau esa. Allah SWT bersifat tunggal karena Dia tak memiliki sekutu.

Sifat wahdaniyah pada Allah SWT tertulis dalam Alquran Surat Al-Ikhlas ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut.

                          قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

 

Artinya: "Katakanlah: 'Dialah Allah, Yang Maha Esa.'" (QS. Al-Ikhlas: 1)

Sunday, 29 August 2021

Menggali Dasar Islam Yang Ke-Dua (Kitab Maukhtar al-Hadist)


Mata Pelajaran            : Hadist (Mukhtar al-Hadistt)

Materi                          : Hamba yang paling di benci Allah adalah hamba yang pakaiannya lebih baik daripada Amalnya

Pemateri                      : Ust. Ahmad Yazid, S.Pd.I.

 

أَبْغَضُ الْعِبَادِ إِلَى اللَّهِ مَنْ كَانَ ثَوْبَاهُ خَيْرًا مِنْ عَمَلِهِ ، أَنْ تَكُونَ ثِيَابُهُ ثِــيَابَ الأَنْـبِـــيَاءِ وَعَمَلُهُ عَمَلَ الْجَبَّارِينَ

(رواه الديلـمي عن عائشة)

 

Hamba yang paling dibenci Allah adalah orang yang (kedua) pakainnya lebih baik dari pada amal perbuatannya, pakaian yang ia kenakan seperti pakaian para Nabi sedangkan amal perbuatannya seperti perbuatan orang-orang yang angkara murka (HR. ad-Dailami melalui ‘Aisyah)