Thursday, 15 July 2021

Urgensi Memperdalam Aqidah (Jawahirul Kalamiyah)

Mata Pelajaran : Aqidah (Jawahirul Kalamiyah)

Materi : Muqoddimah

Pemateri         : Ust.Agung Maulana rois , S.H.

Pentingnya sebuah keyakinan atau akidah dalam menjalani  kehidupan sekarang dan masa yang akan datang, menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dipelajari. Sebab, dengan keyakinan yang benar akan melahirkan tatanilai yang baik dan tata nilai yang baik akan menjadikan masyarakat yang baik pula. Keyakinan yang dimaksud adalah keyakinan dalam menghamba kepada Allah. 

Maka, para ulama menulis kitab akidah agar masyarakat umum bisa mengkonsumsinya, sehingga masyarakat memiliki keyakinan yang benar. Di antaranya adalah kitab Jawahirul Kalamiyah, karya Syeik Thahir bin Muhammad bin Shalih bin Ahmad bin Mauhub al-Sam’any al-Jazairy al-Damassyqy. Ayahnya, seorang faqih bermazhab Maliki dan seorang mufti di Syam. Pada tahun 1263 H. ayahnya pindah dari Aljazair ke Damaskus.

Syekh Thahir lahir di negeri Syam pada tahun 1268 H. bertepatan dengan tahun 1852 M. Beliau belajar di Madrasah al-Jaqmikiyah dan tamat bersama ustad Abdurrahman al-Bustany. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya belajar kepada Syekh Abdul Ghani al-Ghonimy al-Maidany (1222-1298 H). Beliau sangat suka mempelajari berbagai disiplin ilmu, antara lain Fisika, Matematika di samping keseriusannya dalam mempelajari ilmu yang berbahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman.

Demikian sekilas tentang muqoddimah dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.


*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H. 



Pentingnya Belajar Fiqih Dalam Beribadah (Sulam Taufik)

Mata Pelajaran : Fiqih (Sulam Taufik)

Materi : Muqoddimah

Pemateri         : Ust. Qomaria, S.Pd.

Pentingnya belajar menjadi hal yang harus dipelajari. Sebab, manusia diciptkan di dunia salah satu tujuanya adalah untuk beribadah, seperti yang tercantum dalm QS. Adz-Zariat : 56. Yang memiliki arti: “Allah tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah”. Pertanyaanya adalah bagiamana cara beribadah kepada Allah secara benar? 

Maka, perlunya belajar kitab fiqih karya para ulama sebagai dasar dalm beribadah. Di antaranya adalh kitab kitab Sulam Taufik karya Syeikh Nawawi Al-bantani. Beliau merupakan seorang ulama besar dari Indonesia yang mendunia. Selain menjadi intelektual Islam yang produktif, Syekh Nawawi al-Bantani juga tercatat dalam sejarah telah berperan menggelorakan perjuangan melawan kolonial Belanda. Jika dilihat dari nasabnya, Syekh Nawawi al-Bantani masih memiliki pertalian keturunan dengan Sunan Gunung Jati, anggota Wali Songo yang juga Sultan Cirebon pada 1479-1568 M. 

Syekh Nawawi al-Bantani lahir dari keluarga agamis di Desa Tanara, Serang, Banten, pada 1813. Ayahnya adalah KH Umar bin Arabi, ulama dan penghulu desa. Nama kecilnya adalah Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi al-Bantani, anak sulung dari tujuh bersaudara keluarga tersebut. 

Demikian sekilas tentang muqoddimah dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.



*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H. 


Refleksi Sejarah Nabi dan Sahabat (Khulasoh Nurul Yaqin Juz 3)

Pendidikan Berbasis Pancasila Memperkuat Persatuan Bangsa

Oleh: Ahmad Asrori, S.H.

Peneliti di Lembaga Hukum dan HAM Kendal  dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Pendidikan adalah senjata paling kuat yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia

               Demikianlah, petuah yang disampaikan oleh Nelson Mandale—Presiden Afrika Selatan periode 1994-1999—tentang pentingnya sebuah pendidikan dalam mengubah tatanan masyarakat dunia. Pendidikan yang baik dan benar serta berbasis—dasar—Pancasilaharus ditanamkan sejak se-dini mungkin untuk menjaga persatuan dan perdamaian NKRI. Sebab, NKRI sebagai negera kepulauan yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama, dan budaya sangat rawan akan gesekan dan pertikaian antar sesama, dengan begitu perlu adanya penguatan karakter Pancasila sejak dini untuk mengatasi permasalahan tersebut.

               Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan upaya untuk memajukan budi pakerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan dapat kita artikan kedalam berbagai macam, kalau dalam segi formal ada tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, sedangkan yang non formal bisa melalui orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar.

            Pentingnya pendidikan berbasis atau berdasar pada nilai Pancasila sejak dini menjadi hal yang harus dilakukan, baik di ranah pendidikan formal maupun non formal. Sebab, dengan nilai Pancasila akan lebih mudah mencapai tujuan Negara Indonesia—memajukan kesejahteraan umum—serta dengan nila Pancasila tersebut pula kehidupan sehari-hari masyarakat, akan tercipta suasana cinta kasih, harmoni, dan damai. Namun, perdamian tersbut sangat sulit dicapai, bila masyarakat Indonesia hanya mengedepankan nafsu menguasai sehingga memicu adanya konflik, penindasan, dan intimidasi dll.

            Di era digital ini, pendidikan literasi berbasis Pancasila juga harus diperjuangkan di dunia maya. Sebab, menurut lembaga pasar e-Market, pengguna internet di seluruh alam mini diperkirakan mencapai 3 miliar pada 2015 dan tiga tahun setelahnya, yakni 2018 diperkirakan akan mencapai 3,6 miliarpengguna internet. Perlu kita ketahui, bahwa pengguna internet atau user tentu tidak hanya menerima informasi di media, malainkan mereka juga memproduksi. Dengan demikian, perlu orang-orang yang terdidik untuk meminimalisir berita yang bersifat hoax, kebencian, fitnah, adu domba, dll yakni generasi yang memiliki kepribadian nilai-nilai luhur Pancasila.

Kekuatan Pancasila diuji kembali

            Dewasa ini, terjadi kasus teror dan kasus yang membelot dari nilai Pancasila, sebut saja peristiwa Ibu yang meledakan dirinya dengan bayinya yang berumur 2 tahun. Ibu tersebut adalah Mak Abu, yang merupakan Istri dari Husain—Abu Hamzah— yang pada hari selasa, 12-03-19 ditangkap oleh Densus 88/Anti terror Polri, karena terduga sebagai teroris. Mabes polri telah menyelidiki, bahwa Mak Abu dan anaknya yang berusia 2 tahun telah meledakan diri di kediamanya sekitar pukul 01.20 pada hari Rabu, 13-03-19. (Tribun Jateng: 14-11-20).

            Peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Perlu adanya upaya dan peran dari lembaga pemerintahan yang konkrit untuk membasmi teroris dan paham radikal. Tentu peran sekolah dalam penenaman nilai-nilai Pancasila dan anti paham radikalisme juga menjadi faktor penentu. Penanaman tersebut dapat dilakukan dengan memberi mata pelajaran Pancasila, Pendidikan Agama, dan Kewarganegaraan. Dan yang paling urgen lagi adalah bagaimana sistem pendidikan sekolah tidak hanya dalam ranah teori saja, melainkan juga diranah praktek sehari-hari.

            Senada dengan itu, penanaman pendidikan berbasis Pancasila juga harus dipraktekan di masyarakat. Lemahnya praktik dan pendidikan Pancasila di masyarakat akan berimplikasi kepada kualitas generasi penerus bangsa, karena lingkungan masyarakat juga ikut andil dalam membentuk kepribadian seorang anak. Dengan demikian, perlu upaya-upaya untuk mengatasi hal tersebut, di antaranya adalah dengan memasang poster-poster yang bersifat nasionalisme di lingkungan sekitar, mendirikan kampung perdamaian dll.

            Maka dari itu, perlu adanya sinergitas dari seluruh elemen masyarakat untuk mendidik generasi penerus estafet kepemimpinan bangsa agar mereka memilki kepribadian dan kualitas berkepribadian Pancasila, sehingga akan mampu menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Mari, kita berbondong-bondong mempraktikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan kita juga harus ikut andil dalam menyalurkan nilai tersebut ke generas berikutnya, agar persatuan dan perdamian Indonesia senantiasa terjaga.Wallahu a’lam bi al-shawaab

 


Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab AkhlaQ Lil banin Juz 2)

Pendidikan Berbasis Pancasila Memperkuat Persatuan Bangsa

Oleh: Ahmad Asrori, S.H.

Peneliti di Lembaga Hukum dan HAM Kendal  dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Pendidikan adalah senjata paling kuat yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia

               Demikianlah, petuah yang disampaikan oleh Nelson Mandale—Presiden Afrika Selatan periode 1994-1999—tentang pentingnya sebuah pendidikan dalam mengubah tatanan masyarakat dunia. Pendidikan yang baik dan benar serta berbasis—dasar—Pancasilaharus ditanamkan sejak se-dini mungkin untuk menjaga persatuan dan perdamaian NKRI. Sebab, NKRI sebagai negera kepulauan yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama, dan budaya sangat rawan akan gesekan dan pertikaian antar sesama, dengan begitu perlu adanya penguatan karakter Pancasila sejak dini untuk mengatasi permasalahan tersebut.

               Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan upaya untuk memajukan budi pakerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan dapat kita artikan kedalam berbagai macam, kalau dalam segi formal ada tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, sedangkan yang non formal bisa melalui orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar.

            Pentingnya pendidikan berbasis atau berdasar pada nilai Pancasila sejak dini menjadi hal yang harus dilakukan, baik di ranah pendidikan formal maupun non formal. Sebab, dengan nilai Pancasila akan lebih mudah mencapai tujuan Negara Indonesia—memajukan kesejahteraan umum—serta dengan nila Pancasila tersebut pula kehidupan sehari-hari masyarakat, akan tercipta suasana cinta kasih, harmoni, dan damai. Namun, perdamian tersbut sangat sulit dicapai, bila masyarakat Indonesia hanya mengedepankan nafsu menguasai sehingga memicu adanya konflik, penindasan, dan intimidasi dll.

            Di era digital ini, pendidikan literasi berbasis Pancasila juga harus diperjuangkan di dunia maya. Sebab, menurut lembaga pasar e-Market, pengguna internet di seluruh alam mini diperkirakan mencapai 3 miliar pada 2015 dan tiga tahun setelahnya, yakni 2018 diperkirakan akan mencapai 3,6 miliarpengguna internet. Perlu kita ketahui, bahwa pengguna internet atau user tentu tidak hanya menerima informasi di media, malainkan mereka juga memproduksi. Dengan demikian, perlu orang-orang yang terdidik untuk meminimalisir berita yang bersifat hoax, kebencian, fitnah, adu domba, dll yakni generasi yang memiliki kepribadian nilai-nilai luhur Pancasila.

Kekuatan Pancasila diuji kembali

            Dewasa ini, terjadi kasus teror dan kasus yang membelot dari nilai Pancasila, sebut saja peristiwa Ibu yang meledakan dirinya dengan bayinya yang berumur 2 tahun. Ibu tersebut adalah Mak Abu, yang merupakan Istri dari Husain—Abu Hamzah— yang pada hari selasa, 12-03-19 ditangkap oleh Densus 88/Anti terror Polri, karena terduga sebagai teroris. Mabes polri telah menyelidiki, bahwa Mak Abu dan anaknya yang berusia 2 tahun telah meledakan diri di kediamanya sekitar pukul 01.20 pada hari Rabu, 13-03-19. (Tribun Jateng: 14-11-20).

            Peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Perlu adanya upaya dan peran dari lembaga pemerintahan yang konkrit untuk membasmi teroris dan paham radikal. Tentu peran sekolah dalam penenaman nilai-nilai Pancasila dan anti paham radikalisme juga menjadi faktor penentu. Penanaman tersebut dapat dilakukan dengan memberi mata pelajaran Pancasila, Pendidikan Agama, dan Kewarganegaraan. Dan yang paling urgen lagi adalah bagaimana sistem pendidikan sekolah tidak hanya dalam ranah teori saja, melainkan juga diranah praktek sehari-hari.

            Senada dengan itu, penanaman pendidikan berbasis Pancasila juga harus dipraktekan di masyarakat. Lemahnya praktik dan pendidikan Pancasila di masyarakat akan berimplikasi kepada kualitas generasi penerus bangsa, karena lingkungan masyarakat juga ikut andil dalam membentuk kepribadian seorang anak. Dengan demikian, perlu upaya-upaya untuk mengatasi hal tersebut, di antaranya adalah dengan memasang poster-poster yang bersifat nasionalisme di lingkungan sekitar, mendirikan kampung perdamaian dll.

            Maka dari itu, perlu adanya sinergitas dari seluruh elemen masyarakat untuk mendidik generasi penerus estafet kepemimpinan bangsa agar mereka memilki kepribadian dan kualitas berkepribadian Pancasila, sehingga akan mampu menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Mari, kita berbondong-bondong mempraktikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan kita juga harus ikut andil dalam menyalurkan nilai tersebut ke generas berikutnya, agar persatuan dan perdamian Indonesia senantiasa terjaga.Wallahu a’lam bi al-shawaab

 


Menggali Dasar Islam Yang Ke-Dua (Kitab Lubabul Hadist)

Pendidikan Berbasis Pancasila Memperkuat Persatuan Bangsa

Oleh: Ahmad Asrori, S.H.

Peneliti di Lembaga Hukum dan HAM Kendal  dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Pendidikan adalah senjata paling kuat yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia

               Demikianlah, petuah yang disampaikan oleh Nelson Mandale—Presiden Afrika Selatan periode 1994-1999—tentang pentingnya sebuah pendidikan dalam mengubah tatanan masyarakat dunia. Pendidikan yang baik dan benar serta berbasis—dasar—Pancasilaharus ditanamkan sejak se-dini mungkin untuk menjaga persatuan dan perdamaian NKRI. Sebab, NKRI sebagai negera kepulauan yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama, dan budaya sangat rawan akan gesekan dan pertikaian antar sesama, dengan begitu perlu adanya penguatan karakter Pancasila sejak dini untuk mengatasi permasalahan tersebut.

               Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan upaya untuk memajukan budi pakerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan dapat kita artikan kedalam berbagai macam, kalau dalam segi formal ada tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, sedangkan yang non formal bisa melalui orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar.

            Pentingnya pendidikan berbasis atau berdasar pada nilai Pancasila sejak dini menjadi hal yang harus dilakukan, baik di ranah pendidikan formal maupun non formal. Sebab, dengan nilai Pancasila akan lebih mudah mencapai tujuan Negara Indonesia—memajukan kesejahteraan umum—serta dengan nila Pancasila tersebut pula kehidupan sehari-hari masyarakat, akan tercipta suasana cinta kasih, harmoni, dan damai. Namun, perdamian tersbut sangat sulit dicapai, bila masyarakat Indonesia hanya mengedepankan nafsu menguasai sehingga memicu adanya konflik, penindasan, dan intimidasi dll.

            Di era digital ini, pendidikan literasi berbasis Pancasila juga harus diperjuangkan di dunia maya. Sebab, menurut lembaga pasar e-Market, pengguna internet di seluruh alam mini diperkirakan mencapai 3 miliar pada 2015 dan tiga tahun setelahnya, yakni 2018 diperkirakan akan mencapai 3,6 miliarpengguna internet. Perlu kita ketahui, bahwa pengguna internet atau user tentu tidak hanya menerima informasi di media, malainkan mereka juga memproduksi. Dengan demikian, perlu orang-orang yang terdidik untuk meminimalisir berita yang bersifat hoax, kebencian, fitnah, adu domba, dll yakni generasi yang memiliki kepribadian nilai-nilai luhur Pancasila.

Kekuatan Pancasila diuji kembali

            Dewasa ini, terjadi kasus teror dan kasus yang membelot dari nilai Pancasila, sebut saja peristiwa Ibu yang meledakan dirinya dengan bayinya yang berumur 2 tahun. Ibu tersebut adalah Mak Abu, yang merupakan Istri dari Husain—Abu Hamzah— yang pada hari selasa, 12-03-19 ditangkap oleh Densus 88/Anti terror Polri, karena terduga sebagai teroris. Mabes polri telah menyelidiki, bahwa Mak Abu dan anaknya yang berusia 2 tahun telah meledakan diri di kediamanya sekitar pukul 01.20 pada hari Rabu, 13-03-19. (Tribun Jateng: 14-11-20).

            Peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Perlu adanya upaya dan peran dari lembaga pemerintahan yang konkrit untuk membasmi teroris dan paham radikal. Tentu peran sekolah dalam penenaman nilai-nilai Pancasila dan anti paham radikalisme juga menjadi faktor penentu. Penanaman tersebut dapat dilakukan dengan memberi mata pelajaran Pancasila, Pendidikan Agama, dan Kewarganegaraan. Dan yang paling urgen lagi adalah bagaimana sistem pendidikan sekolah tidak hanya dalam ranah teori saja, melainkan juga diranah praktek sehari-hari.

            Senada dengan itu, penanaman pendidikan berbasis Pancasila juga harus dipraktekan di masyarakat. Lemahnya praktik dan pendidikan Pancasila di masyarakat akan berimplikasi kepada kualitas generasi penerus bangsa, karena lingkungan masyarakat juga ikut andil dalam membentuk kepribadian seorang anak. Dengan demikian, perlu upaya-upaya untuk mengatasi hal tersebut, di antaranya adalah dengan memasang poster-poster yang bersifat nasionalisme di lingkungan sekitar, mendirikan kampung perdamaian dll.

            Maka dari itu, perlu adanya sinergitas dari seluruh elemen masyarakat untuk mendidik generasi penerus estafet kepemimpinan bangsa agar mereka memilki kepribadian dan kualitas berkepribadian Pancasila, sehingga akan mampu menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Mari, kita berbondong-bondong mempraktikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan kita juga harus ikut andil dalam menyalurkan nilai tersebut ke generas berikutnya, agar persatuan dan perdamian Indonesia senantiasa terjaga.Wallahu a’lam bi al-shawaab

 


Wednesday, 14 July 2021

Belajar Membaca Al-Quran Dengan Alat Kitab Tuhfatul Atfal

 Mata Pelajaran : TAjwid (Tuhfatul Atfal)

Materi : Muqoddimah

Pemateri : Ust. Luqman, S.H.I.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud berkata, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kalilipat. Saya tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, melainkan Alif satu huruf, lam satu hurf dan Miim satu huruf. (H.R. At-Tirmidzi). Maka, para ulama, membuat rumusan dalam membaca al-Quran agar masyarakat mampu membaca al-Quran dengan baik dan benar, di antaranya adalah kitab Tuhfatul Atfal.

Kitab Matan Tuhfatul Athfal merupakan sebuah kitab berupa nadzham (syair) yang mengandung kaidah-kaidah dasar ilmu tajwid yang dirangkai dengan bait-bait syair yang indah, Maka dari itu, kitab ini di beri judul Tuhfatul Athfal yang memiliki arti “Senandung Anak-Anak”.

Pengarang kitab tersebut adalah Syaikh Sulaiman bin Hasan bin Muhammad Al Jamzuriy yang dinisbatkan pada Jamzur, yaitu nama salah satu kampung di Mesir, dekat daerah Thanthaa. Beliau lahir pada bulan Rabiul Awal tahun 1160-an. Belajar ilmu tajwid dan qiroah (bacaan Qur’an) diantaranya dengan Syaikh Nuruddin Al Mihiy. Diantara karangannya adalah Matan Tuhf


athul Athfal, Fathul Aqfal Fi Syarhi Tuhfatil Athfal, dan Fathurrahmaaniy fi Qiroatil Qur’an.

Kitab ini dijadikan sebagai salah satu materi dalam kurikulum di PP Salman Al-Farisi untuk membangun dasar pengetahuan santri terhadap Ilmu Tajwid Al-Qur’an yang merupakan ilmu yang sangat penting dan mendasar tentang Al-Qur’an. Demikian sekilas tentang muqoddimah dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.



*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.




Menyelami Kitab Klasik Aqoid Diniyah Juz 2

Mata Pelajaran : Aqidah (Aqoid Diniyyah juz 2)

Materi : Muqoddimah

Pemateri         : Ust. Ahmad Khosim, S.H.I.

Pentingnya sebuah keyakinan atau akidah dalam menjalani  kehidupan sekarang dan masa yang akan datang, menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dipelajari. Sebab, dengan keyakinan yang benar akan melahirkan tatanilai yang baik dan tata nilai yang baik akan menjadikan masyarakat yang baik pula. Keyakinan yang dimaksud adalah keyakinan dalam menghamba kepada Allah. 

Maka, para ulama menulis kitab akidah agar masyarakat umum bisa mengkonsumsinya, sehingga masyarakat memiliki keyakinan yang benar. Di antaranya adalah kitab Aqoid Diniyyah, karya Habib Abdurrohman As-saqof. Beliau lahir di Cimanggu, Bogor dan wafat pada senin 7 Rabi’ul Awal 1428 atau 26 Maret 2007. Selain kitab tersebut, beliau juga beberapa kitab yang membahas tentang tauhid, tafsir, akhlak, fiqih bahkan sastra.

Dalam muqoddimah kitab Aqoid Diniyyah juz 2, seperti kitab-kitab klasik lainya, yakni Pertama, memahasucikan Allah sebagai dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kedua, memberikan muatan tentang tema dan metode dalam kitab tersebut, khususnya untuk para anak-anak didik. Ketiga, mengharap kepada Allah, agar kitab ini bermanfaat bagi semua orang.

Demikian sekilas tentang muqoddimah dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H. 


Monday, 12 July 2021

Akidah (Keyaqinan) yang Benar

Mata Pelajaran : Akidah (Durusul Aqoidid Diniyyah Juz 3) 

Materi : Akidah (Keyaqinan) yang Benar 

Pemateri : Agung Maula Rois, S.H

 

Akidah merupakan bidang ilmu yang mendasar bagi umat beragama.Karena melalui

akidah-lah kita kita mengetahui kepercayaan yang kita yakini benar. Kita mengerti apa yang

kita sembah dan kita yakini benar. Secara tidak langsung, akidah mempengaruhi setiap

langkah kita, setiap perbuatan dan tindakan kita.Apabila akidah kita kuat secara otomatis

keimanan kita-pun kuat, sehingga dapat membimbing kita untuk melangkah kepada hal yang

baik.Begitupun sebaliknya, apabila iman kita lemah, maka nafsu kita semakin liar dan

pembimbing diri berupa keimanan tidak mampu hadir untuk melawan nafsu kita.


Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui dan mendalami ilmu

tentang akidah untuk selanjutnya kita resapi dan kita terapkan pada kehidupan sehari -hari. pada

pemaparan kali ini, akan disajikan materi dasar dalam ilmu akidah, yakni ta’rif  atau pengertian tentang akidah itu sendiri dalam kitab Aqoid Diniyah jus 3. 


Akidah yang benar (al-aqiidah as-sadiidah) adalah Kita meyakini bahwa kita bersaksi  tidak ada Tuhan selain Allah, dengan meng-Esa-kan Allah dan tidak ada sekutu bagi Allah.Tidak ada sesuatu apapun yang menyamai Allah.Pengertian tersebut wajib kita yakini kebenarannya. Keterangan tersebut pada pokoknya menegaskan bahwa Tuhan adalah satu,

yaitu Allah. Segala sesuatu (selain Allah) adalah makhluk atau yang diciptakan, oleh karena

itu tidak ada sesuatau hal apapun yang mampu menyamai sang pencipta.


Allah adalah dzat yang maha mendengar dan maha melihat.Dimanapun kita berada,

bahkan hati kita berprasangka kepada seseorang-pun Allah mengetahui.Dengan kita

menyakini kebenarannya bahwa Allah dzat yang maha mendengar dan maha melihat, maka

setiap perilaku kita selalu menjaga diri dari hal-hal yang buruk atau dilarang oleh

agama.Seolah-olah diri terbimbing oleh keimanan kita dan keyakinan kita bahwa Allah selalu

melihat kita dan tahu setiap langkah kita untuk berbuat.


Demikian rangkuman singkat dari kitab Durusul Aqoidid Diniyyah Juz 3, semoga

dengan niatan kita yang baik untuk mendalami akidah kita, dapat ridho dari Allah SWT