Tuesday, 31 August 2021

Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab Akhlak Lilbanin Juz 1)


Mata Pelajaran            : Akhlak (Akhlak Lilbanin Juz 1)

Materi                          : Akhlak di Rumah

Pemateri                      : Ust. Kharisman, S.Pd.I.

Wajib atas seorang Anak untuk Memperhatikan Adab di dalam Rumahnya, dengan Menghormati Kedua Orang Tuanya, dan Saudara-saudara laki-lakinya ataupun kepada Saudari Perempuannya, dab Semua orang didalam Rumahnya, dan tidak melakukan sesuatu yang membuat salah satu dari mereka menjadi Marah, dan tidak membantah saudaranya yang lebih besar serta memusuhi saudaranya yang lebih kecil darinya, dan tidak menyakiti para pembantu, dan apabila bermain maka bermainlah dengan Disiplin, dengan tanpa berteriak-teriak dan tidak bergerak (berlaga) yang tidak sesuai, terutama apabila ada seseorang dirumah yang sedang tidur atau sedang sakit

Dan Memelihara terhadap Alat-alat Rumah, maka tidaklah memainkan Alat-alat Dapur, dan tidak mendobrak Pintu, Merusak Pepohonan, dan apabila ada padanya Kucing atau Ayam, maka hendaknya ia memberi kepadanya Makan-makanan dan Minum-minuman dan jangan Menyakitinya.

Monday, 30 August 2021

Refleksi Sejarah Nabi dan Sahabat (Kitab Akhlak Lilbanin Juz 3)

Mata Pelajaran            :Tarikh (Khulasoh Nurul Yaqin Juz 3)

Materi                          : Pelajaran Ke Duapuluhempat : Apa-Apa Yang Dipelopori ’Umar Radliallaahu ’Anhu

Pemateri                      : Ust. Misbah, S.Pd.I.

 

1. Khalifah ’Umar bin Khaththab ialah orang yang pertama-tama memakai nama Amier Mu’minien.

2 . Beliau adalah orang yang pertama-tama menyuruh meluaskan Masjid Haram dan Masjid Rasul s.a.w.

3. Beliau adalah yang pertama-tama menyuruh mengqunakan Hijriah, yaitu tahun yang dihitung dari mulai Nabi Muhammad hiirah ke Madinah.

4 . Beliau adalah pertama-tama orang yang menyuruh mengadakan catatan pembukuan, untuk mencocokkan keluar masuknya keuangan pemerintah dalam membaqi ganimah bagi pegawai-p'egawainya atas siapc-siapa yanq berhak menerimanya.  

5. Beliau adalah pertama-tama orang yang mendirikan rumah-rumah pertemuan yang mana di situ dipenuhi dengan jaminan-jaminan untuk menolong oranq-oranq yang kehabisan bekal.

6. Beliau adalah orang yang pertama-tama menyelidiki rakyat di waktu malam, mengangkat kadli-kadli dan mendirikan Baitul-Maal untuk harta-harta orang-crang Islam. Beliau bermaksud untuk mengisinya itu diam dari harta zakat, pajak seperlima dari harta jarahan dan harta wansan bagi orang-orang yang tidak mempunyai.

7 . Beliau adalah pertama-tama orang yang menyuruh menjalankan pos, untuk mengantar surat-sirat di antara seluruh wilayah negara.

Pembagian mutada’ dan khabar


August 09, 2021 Agama PMS Kendal No comments

 Mata Pelajaran            : Nahwu (Jurmiyah)

Materi                          : Pembagian mutada’ dan khabar

Pemateri                      : Ust. Ahmad Najih, S.Pd.

 

Mubtada’ terbagi ke dalam dua macam, bisa berupa isim mu’rab atau isim mabni.

Contoh mubtada’ berupa isim mu’rab:

الْوَلَدُ نَشِيْطٌ

اَلْكِتَابُ جَدِيْدٌ

Contoh mubtada’ beruapa isim mabni:

أَنَا طَالِبَةٌ

هَذَا كِتَابٌ

Adapun khabar terbagi ke dalam dua macam, yakni mufrad dan ghair mufrad.

1. Khabar mufrad

Yang disebut mufrad disini bukanlah isim mufrad, melainkan khabarnya hanya terdiri dari satu kata. Contoh:

هَذَا كِتَابٌ

اَلْكِتَابُ جَدِيْدٌ

2. Khabar ghair mufrad

Khabar ghair mufrad terbagi ke dalam dua macam lagi:

a. Syibhul jumlah

Khabar syibhul jumlah bisa berupa jar majrur atau dharaf.

Contoh khabar jar majrur:

اَلْكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ

أَنَا فِيْ بَيْتِيْ

Contoh khabar dharaf:

بَيْتِيْ أَمَامَ الْمَدْرَسَةِ

اَلْمَسْجِدُ وَرَاءَ بَيْتِيْ

b. Jumlah

Khabar yang berupa jumlah (kalimat) bisa terdiri dari jumlah ismiyah (khabar dan mubtada’) atau jumlah fi’liyah (fi’il dan fa’il).

Contoh khabar jumlah ismiyah:

مُحَمَّدٌ خُلُقُهُ حَسَنٌ

أَحْمَدُ أَبُوْهُ مُدَرِّسٌ

Contoh khabar jumlah fi’liyah:

اَلْعُلُوْمُ تَكْثُرُ فَوَائِدُهَا

أَحْمَدُ يَقْرَأُ اْلقُرْأَنَ

Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab Taisir Al-Kholaq)

 

Mata Pelajaran            : Akhlak (Taisir Al-Kholaq)

Materi                          : Adab Muta'allim (Murid)

Pemateri                      : Ust. Setyo Darussalam, S.Pd.I.

 

Bagi seorang murid, ada adab di dalam dirinya sendiri, adab ketika berhubungan bersama guru, dan adab ketika berhubungan bersama saudara-saudarnya (teman-temannya).

Adapun adabnya di dalam dirinya sendiri, maka sangatlah banyak :

Di antaranya adalah meninggalkan sifat ujub (membanggakan diri).

Di antaranya adalah bersifat tawadlu' (rendah hati) dan jujur agar dia menjadi orang yang dicintai dan dipercaya.

Di antaranya adalah bersikap waqar (tenang dan santai) saat dia berjalan,

Memejamkan mata dari melihat perkara-perkara yang haram.

Dia harus menjadi orang yang dapat dipercaya pada ilmu yang disampaikan padanya, sehingga dia tidak memberikan jawaban dengan apa yang tidak dia ketahui.

Adapun adabnya ketika berhubungan bersama gurunya :

Di antaranya adalah meyakini bahwa keutamaan guru lebih besar daripada keutamaan kedua orangtuanya yang diberikan kepadanya, karena sesungguhnya guru mendidik ruhnya.

Di antaranya adalah khudlu' (sopan santun) di depan guru

Duduk dengan adab yang baik di dalam pelajaran guru

Memperhatikan dengan baik pada apa yang dikatakan guru

Di antaranya adalah meninggalkan candaan (gurauan)

Tidak memuji orang lain yang termasuk ulama' di hadapannya, karena dikhawatirkan guru akan memahami bahwa muridnya sedang mencelanya

Di antaranya adalah rasa malu tidak mencegah murid untuk bertanya pada apa yang tidak dia ketahui

Adapun adabnya ketika berhubungan dengan saudara-saudaranya (teman-temannya) :

Di antaranya adalah memuliakan mereka

Meninggalkan sikap meremehkan seseorang dari mereka

Meninggalkan sifat merasa lebih mulia melebihi mereka

Di antaranya adalah tidak menghina mereka karena lambatnya pemahaman mereka

Tidak merasa bahagia tatkala seorang guru menegur sebagian murid yang memiliki pemahaman pendek, karena hal itu merupakan sebab kebencian dan permusuhan.

Menggali Dasar Islam Yang Ke-Dua (Kitab At-Targhib wa At-Tarhib)

Mata Pelajaran            : Hadist (At-Targhib wa At-Tarhib)

Materi                          : Derajat pencsri ilmu mendekati para Nabi

Pemateri                      : Ust. Oko Haryono, S.Ag.

Menuntut ilmu dan menunaikan ibadah merupakan hal yang sama-sama dianjurkan dalam Islam. Meski demikian, keduanya memiliki kedudukan yang berbeda meski sama-sama baik jika ditunaikan.

Dalam kitab Muhammad Sang Teladan karya Abdurrohman As-Syarqawi disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam hadis riwayat At-Thabrani pernah berkata: فضل العلم خير من العبادة “Fadhlul ilmi khairun min fadhlil ibadati.” Yang artinya: “Keutamaan ilmu jauh lebih baik daripada keutamaan ibadah,”.

Hadits ini dikatakan Rasulullah SAW tak lepas dari konteks yang terjadi di masa tersebut. Yakni di saat sahabat-sahabat Nabi banyak yang melaksanakan ibadah dengan cara berlebih-lebihan seperti sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari terus-menerus.

Menyelami Kitab Klasik Aqoid Diniyah Juz 1

Mata Pelajaran            : Aqidah (Aqoid Diniyyah juz 1)

Materi                          : Sifat Allah Wahdaniyah

Pemateri                      : Ust. Ahmad Khosim, S.H.I.

 

Allah SWT hanya ada satu di dunia ini, maka dari itu Dia memiliki sifat wahdaniyah yang berarti tunggal atau esa. Allah SWT bersifat tunggal karena Dia tak memiliki sekutu.

Sifat wahdaniyah pada Allah SWT tertulis dalam Alquran Surat Al-Ikhlas ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut.

                          قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

 

Artinya: "Katakanlah: 'Dialah Allah, Yang Maha Esa.'" (QS. Al-Ikhlas: 1)

Sunday, 29 August 2021

Menggali Dasar Islam Yang Ke-Dua (Kitab Maukhtar al-Hadist)


Mata Pelajaran            : Hadist (Mukhtar al-Hadistt)

Materi                          : Hamba yang paling di benci Allah adalah hamba yang pakaiannya lebih baik daripada Amalnya

Pemateri                      : Ust. Ahmad Yazid, S.Pd.I.

 

أَبْغَضُ الْعِبَادِ إِلَى اللَّهِ مَنْ كَانَ ثَوْبَاهُ خَيْرًا مِنْ عَمَلِهِ ، أَنْ تَكُونَ ثِيَابُهُ ثِــيَابَ الأَنْـبِـــيَاءِ وَعَمَلُهُ عَمَلَ الْجَبَّارِينَ

(رواه الديلـمي عن عائشة)

 

Hamba yang paling dibenci Allah adalah orang yang (kedua) pakainnya lebih baik dari pada amal perbuatannya, pakaian yang ia kenakan seperti pakaian para Nabi sedangkan amal perbuatannya seperti perbuatan orang-orang yang angkara murka (HR. ad-Dailami melalui ‘Aisyah)

Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab Taisir Al-Kholaq)


 Mata Pelajaran            : Aqidah (Durus Al-Aqāid Ad-Diniyyah Juz 3)

Materi                          Wujud (Ada)

Pemateri                      : Ust. Agung Maulana Rois, S.H.

1. Wujud (Ada)

Wujud merupakan sifat wajib Allah yang pertama. Arti dari Wujud adalah ‘ada’ yang berarti merupakan zat yang pasti ada, berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun, dan tidak ada tuhan selain Dia.

Sifat ini tercermin dalam firman Allah Swt. dalam beberapa ayat berikut ini:

“Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. As-Sajadah: 4)

“Sesungguhnya, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Ta-Ha: 14)

Pentingnya Belajar Fiqih Dalam Beribadah (Mabadi Fiqh Juz 3)


Mata Pelajaran            : Fiqih (Mabadi Fiqh Juz 3)

Materi                          : Najis Mughallazah

Pemateri                     : Ust. Muwato, M.Pd.

Najis Mughallazah

Najis ketiga dari salah satu macam-macam najis dalam Islam ialah najis Mughallazah. Najis ini antara lain menyentuh atau disentuh babi, terkena air liur anjing baik secara sengaja ataupun tidak disengaja.

Najis ini tergolong najis berat. Untuk membersihkan diri dari najis ini, diperlukan bilasan air sebanyak tujuh kali dari air mengalir. Hilangkan juga dengan mencuci tubuh pakai sabun.

Mengkaji Sejarah Nabi (Kitab Khulasoh Nurul Yaqin Juz 2)


Materi                          : Tahun Kedua Hijrah

Pemateri                      : Ust. Nur Kadiq, S.Pd.I.

 

TUAN DIUTUS DENGAN MEMBAWA KEBENARAN DAN KEADILAN

1. Suatu ketika Rasulullah berdiri dalam perang Badar, dengan membawa tongkat. Dilihatnya Sawad bin Ghaziah keluar dari barisan. Kemudian dipukullah perutnya dengan tongkat tadi sambil berkata: ’’Lempanglah hai Sawad!” la berkata: ’’Tuan telah menyakiti aku hai Rasulullah!, padahal Tuan diutus membawa kebenaran dan keadilan. Karena itu idzinkanlahsaya untuk membalasdiri tuan”. Rasulullah membuka perutnya seraya berkata: ’’Balaslah hai Sawad!”. Tetapi Sawad memeluk sambil mencium perutnya. Lalu Rasulullah bertanya: Mengap.i

TEBUSAN TAWANAN BADAR

2. Bermusyawaratlah Rasulullah dengan beberapa sahabatnya tentang apa yang harus diperbuat terhadap tawanan-tawanan dalam Perang Badar Maka ‘Umar memberi petunjuk agar tawanan-tawanan tersebut dibunuh saja, sedang Abu Bakar mengusulkan pula supaya tawanan- tawanan itu dibiarkan hidup saja, tetapi harus diambil tebusannya, untuk memperkuat orang-orang Islam menghadapi orang-orang musyrik.

3. Rasulullah menyetujui pendapat Abu Bakar 2 ), dan memerintahkan, agar tidak melepaskan seseorang tawanan kecuali dengan tebusan 2 ). Adapun jumlah tebusan itu dari 1.000 sampai dengan 4.000 dirham.

4. Adapun bagi tawanan yang miskin, tetapi dapat membaca dan menulis, oleh Rasulullah disuruh mengajar 10 anak orang Islam Madinah. Demikian itu sebagai tebusannya.