Saturday, 14 August 2021

Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab Ta’lim Al-Muta’alim)

 Mata Pelajaran            : Akhlak (Ta’lim AL-Muta’alim)

Materi                          : Syarat-syarat Ilmu Yang Dipilih.

Pemateri                      : Ust. Kharisman, S.Pd.I.

 

Bagi pelajar, dalam masalah ilmu hendaklah memilih mana yang terbagus dan dibutuhkan dalam kehidupan agmanya pada waktu itu, lalu yang untuk waktu yang akan datang.

 

Hendaknya lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid, mengenali Allah lengkap dengan dalilnya. Karena orang yang imannya hanya taklid sekalipun menurut pendapat kita sudah syah, adalah tetap berdosa karena ia tidak mau beristidlal dalam masalah ini.

 

Hendaknya pula memiluh ilmi-ilmu yang kuna, bukan yang baru lahir. Banyak ulama berkata : “Tekunilah ilmu kuna, bukan yang baru saja ada.” Awas, jangan sampai terkena pengaruh perbantahan yang tumbuh subur setelah habisnya ualama besar, sebab menjurus untuk menjauhkan pelajar dari mengenali fiqh, hanya menghabiskan usia dengan tanpa guna, menumbuhkan sikap anti-pati/buas dan gemar bermusuhan. Dan itulah termasuk tanda-tanda kiamat akan tiba serta lenyapnya fiqih dan pengetahuan-pengetahuan lain, demikianlah menurut hadits.

Demikian sekilas tentang muqoddimah dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

 

 

 

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

 

 

 

 

 

 

 

Menggali Dasar Islam Yang Ke-Dua (Kitab Lubabul Hadist)

Mata Pelajaran            : Hadist (Lubabul Hadist)

Materi                          : Kemuliaan Ulama’ dan keluarganya

Pemateri                      : Ust. Oko Haryono, S.Ag.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda :

 

مَنْ اَكْرَمَ عَالِمًا فَقَدْ اَكْرَمَنِيْ وَمَنْ اَكْرَمَنِيْ فَقَدْ اكْرَمَ اللهَ وَمَنْ اَكْرَمَ اللهَ فَمَأْوَاهُ الْجَنَّةُ

 

“Barang siapa yang memuliakan orang alim, maka dia benar-benar telah memuliakanku. Dan barang siapa yang memuliakanku, maka dia benar-benar telah memuliakan Allah. Dan barang siapa yang memuliakan Allah, maka tempatnya adalah surga”.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda :

 

نَوْمُ الْعَالِمِ اَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْجَاهِلِ

 

“Tidurnya orang alim itu lebih utama daripada ibadahnya orang yang bodoh”.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda :

 

مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ يَعْمَلُ بِهِ اَوْ لَمْ يَعْمَلْ بِهِ كَانَ اَفْضَلُ مِنْ اَنْ يُصَلِّىَ اَلْفَ رَكَعَةٍ تَطَوُّعًا

 

“Barang siapa belajar satu bab ilmu yang mana dia mengamalkannya atau tidak mengamalkannya, maka hal itu lebih utama daripada dia sholat sunnah 1000 rokaat”.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda :

 

مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا زَارَنِيْ وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا صَافَحَنِيْ وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا جَالَسَنِيْ فِي الدُّنْيَا وَمَنْ جَالَسَنِيْ فِي الدُّنْيَا اَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

“Barang siapa mengunjungi orang alim, maka seolah-olah dia mengunjungiku. Barang siapa bersalaman dengan orang alim, maka seolah-olah dia bersalaman denganku. Barang siapa duduk bersama orang alim, maka selah-olah dia duduk bersamaku di dunia. Dan barang siapa yang duduk bersamaku di dunia, maka aku akan memintanya duduk bersamaku di hari kiamat”.

 

Demikian sekilas tentang muqoddimah dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

 

 

 

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

 

 

 

 

 

 

 

Friday, 13 August 2021

Akhlak; Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat (Kitab Ta’lim Al-Muta’alim)

 Mata Pelajaran            : Akhlak (Ta’lim AL-Muta’alim)

Materi                          : Kelezatan dan Hikmah Ilmu

Pemateri                      : Ust. Setyo Darussalam, S.Pd.I.

 

Siapa saja telah merasakan kelezatan rasa ilmu dan amal, maka semakin kecillah kegemarannya akan harta benda dunia. Syaikhul Imamil Ajall Ustadz Qawamuddin Hammad bin Ibrahim bin ismail Ash-Shoffar Al-Anshoriy membacakan kami syair imla’ abu hanifah :

 

Siapa saja gerangan, menuntut ilmu untuk hari kemudian untuklah dapat keutamaan, anugrah Allah penunjuk jalan

Aduh, saja merugi, penuntut ilmu nan suci

 

Hanya buat sesuap nasi, dari hamba ilahi.

 

Tetapi jikalau dalam meraih keagungan itu demi amar ma’ruf nahi munkar, memperjuangkan kebenaran dan meluhurkan agama bukan untuk keperluan hawa nafsu sendiri makadiperbolehkan sejauh batas telah dapat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar tersebut.

 

Penuntut ilmu hendaknya memperhatikan apa yang tersebut diatas. Ia telah mengatasi kepayahan yang cukup banyak, maka jangan sampai ilmu yang telah ia peroleh itu digunakan sarana bendahara duniawi yang hina, sedikit nilainya dan segera hancur ini. Syair menyebutkan :

 

Dunia itu sedikit, dan paling sedikit

 

Pecintanyapun hina, nan hina dina

 

Sihir dunia, membuat tuli dan buta

 

Kebingungan, tak tahu ke mana jalan

Demikian sekilas penjelasan  dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

 

 

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

Menggali Dasar Islam Yang Ke-Dua (Kitab Bulughul Marom)

Mata Pelajaran            : Hadist (Bulughul Marom)

Materi                          : Melihat Hilal, Pertanda Puasa

Pemateri                      : Ust. Ahmad Yazid, S.Pd.I.

 

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: ( إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: " أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? " قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: " أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? " قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: " فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا" )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ إِرْسَالَهُ

 

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seorang Arab Badui menghadap Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu berkata: Sungguh aku telah melihat bulan sabit (tanggal satu). Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bertanya: "Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah?" Ia berkata: Ya. Beliau bertanya: "Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah." Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: "Umumkanlah pada orang-orang wahai Bilal, agar besok mereka shaum." Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, sesang Nasa'i menilainya mursal.

Demikian sekilas penjelasan  dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

 

 

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

Pentingnya Belajar Fiqih Dalam Beribadah (Mabadi Fiqh Juz 2)

 Mata Pelajaran            : Fiqih (Mabadi Fiqh Juz 2)

Materi                          : Air sedikit dan banyak menggunakan ukuran qullah

Pemateri                      : Ust. Muwato, M.Pd.

 

Kulah atau “qullah” secara bahasa adalah tempayan besar (al-jarratul ‘azhimah). Ia dinamai demikian karena orang besar meng-“qullah”-nya dengan kedua tangan, yaitu menciduk atau mengangkat air dengan kedua telapak tangannya.

 

Kulah merupakan ukuran banyak atau sedikit air. Ukuran banyak dan sedikit air ini menentukan status kesucian air yang digunakan untuk keperluan thaharah atau bersuci.

Oleh karena itu, ulama (setidaknya dari) mazhab syafi’i membagi dua ukuran air sebagaimana keterangan syekh M Nawwi Banten berikut ini:

 

 الماء قليل وكثير: القليل مادون القلتين، والكثير قلتان فأكثر. القليل يتنجس بوقوع النجاسة فيه وإن لم يتغير. والماء الكثير لا يتنجس إلا إذا تغير طعمه أو لونه أو ريحه

 

Artinya, “Air itu sedikit dan banyak. Air sedikit adalah air kurang dari dua kulah. Sedangkan air banyak adalah air sebanyak dua kulah atau lebih. Air sedikit (yang suci) berubah status menjadi (air) najis dengan sebab kejatuhan najis padanya meski kondisi air tidak berubah. Sebaliknya, air banyak tidak berubah status menjadi (air) najis kecuali jika rasa, warna, atau aroma air berubah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja).

Kulah menentukan status kesucian air. Kulah merupakan ukuran yang disebutkan oleh Rasululah SAW dalam sabdanya perihal kesucian air sebagaimana dikutip dari Kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani.

 

 وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: - إِذَا كَانَ اَلْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ اَلْخَبَثَ - وَفِي لَفْظٍ - لَمْ يَنْجُسْ - أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ

 

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Umar RA, ia berakata, dari Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Jika (banyak) air mencapai dua kulah, maka ia tidak membawa najis’–pada lain riwayat ‘tidak menjadi najis’–.” (HR Abu Dawud, At-Turmudzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Adapun berikut ini adalah hadits riwayat Imam Muslim yang mengisyaratkan pada kategori air banyak dan air sedikit.

 

 إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسُ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

 

Artinya, “Jika salah seorang kalian bangun tidur, maka jangan ia langsung memasukkan tangannya ke dalam sebuah wadah (berisi air) sebelum ia mencuci tangan tiga kali. Sungguh, ia tidak tahu di mana tangannya bermalam,” (HR Muslim).

Ulama mazhab Syafi’i biasanya membuat ukuran daya tamping dua kulah air pada sebuah kolam dengan ukuran hasta. Untuk memiliki kapasitas dua kulah air, sebuah kolam atau wadah air berbentuk persegi harus memiliki ruang dengan minimal panjang, lebar, dan kedalaman 1 ¼ hasta standar orang dewasa. Adapun kolam atau wadah yang berbentuk tabung atau silinder memerlukan kurang lebih ruang tampung air dengan kedalaman dua hasta dan panjang keseluruhan dinding lingkaran wadah (sebagian ulama menghitung panjang diameter) sehasta.

Rais Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir dalam syarah Taqrib-nya menyebut air dua kulah setara dengan 270 liter. Kiai Afif mendapatkan angka ini dari Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh karya Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

 وهي تساوي مائتين وسبعين (270) لترا وقدرهما بالمساحة في مكان مربع ذراع وربع (=8،91 سم) طولا وعرضا وعمقا بالذراع المتوسط

 

Artinya, “Ia (dua kulah) memiliki volume setara dengan 270 liter (air). Ukuran keduanya (dua kulah) bila ditempatkan pada sebuah wadah persegi empat adalah wadah dengan panjang, lebar, dan kedalaman dengan 1,25 hasta standar (atau setara dengan 91,8 cm).” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fahtul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-As‘adiyyah: 2014 M/1434 H], halaman 10). Ukuran ini dapat dijadikan acuan untuk menetapkan wadah air dan daya tampungnya dalam kaitannya dengan hitungan kulah air.

 

Demikian sekilas pembahasan dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

 

 

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

 

Mengkaji Sejarah Nabi (Kitab Khulasoh Nurul Yaqin Juz 1)

 Mata Pelajaran            :Tarikh (Khulasoh Nurul Yaqin Juz 1)

Materi                          : Wafatnya Ibu Nabi SAW. dan yang Mengasuh Beliau

Pemateri                      : Ust. Nur Kadiq, S.Pd.I.


– Ibu Nabi saw wafat ketika Nabi SAW. berumur 4 tahun ketika ia kembali dari Makkah

– Ibu Beliau pergi ke Madinah untuk ziarah kubur di makam suaminya, bersama ibu beliau  ikut juga kakek beliau Abdul Muthalib (ada riwayat lain: Ummu Aiman yang ikut bersama ibu nabi dan dialah yang membawa Nabi kembali ke Makkah)

– Ibu Nabi SAW. dikebumikan di Abwaa’ suatu desa diantara Makkah dan Madinah

– Kemudian Nabi saw diasuh oleh Ummu Aiman seorang pelayan Ayah beliau

 

Ringkasan

Ibu Nabi SAW. wafat ketika beliau berumur 4 tahun dan dikebumikan di Abwaa’ kemudian Nabi SAW.  diasuh oleh Ummu Aiman pelayan Ayah beliau

Demikian sekilas pembahasan dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

 

 

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

Thursday, 12 August 2021

Urgensi Memperdalam Aqidah (Jawahirul Kalamiyah)

 Mata Pelajaran            : Aqidah (Jawahirul Kalamiyah)

Materi                          : Cara Meyakini bahwa Zat Allah Berbeda dengan MakhlukNya

Pemateri                      : Ust.Agung Maulana rois , S.H.

 

Telah diketahui bahwa sifat wajib Allah Swt. yang keempat adalah Al-Mukhalafatu lil Hawaditsi, yakni berbeda dengan makhlukNya baik ZatNya, sifat-sifatNya maupun perbuatan-perbuatanNya. Lalu bagaimana cara kita meyakini bahwa zat Allah Swt. itu berbeda dengan makhlukNya?

Syekh Thahir Al-Jazairi di dalam kitabnya Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil A’qidah Al-Islamiyyah mengatakan bahwa cara meyakini bahwa zat Allah Swt. itu berbeda dengan makhlukNya adalah sebagai berikut.

 

هو ان نعتقد ان ذات الله سبحانه وتعالى لاتشابه شيئا من المخلوقات بوجه من الوجوه، فكل ماتراه أو يخطر ببالك فالله ليس كذلك

Yakni kita meyakini bahwa zat Allah swt. itu tidak sama dengan makhluk-makhlukNya dari segi apapun. Maka apapun yang kalian lihat tentangNya atau terlintas di pikiran kalian tentangNya, ketahuilah Allah tidak seperti itu. Di dalam Al-Qur’an difirmankan

 

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

 

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.  (Q.S. Asy-Syura: 11)

Dengan demikian, maka Zat Allah Swt. itu tidak sama sekali dengan makhluk-makhlukNya, bahkan kita tidak akan mampu membayangkannya dan memikirkannya, karena semua yang terlintas di pikiran kita, Allah Swt. sama sekali tidak seperti itu. Jika Allah Swt. seperti apa yang kita pikirkan, maka kita sama saja menyamakan Allah Swt. dengan selainNya. Padahal hal itu sangat mustahil bagiNya.

Demikian sekilas pembahasan dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

Pentingnya Belajar Fiqih Dalam Beribadah (Al-Ghoyah wa At-Taqrib)

  Mata Pelajaran            : Fiqih (Al-Ghoyah wa At-Taqrib)

Materi                          : Hukum Siwak (Sikat Gigi)

Pemateri                      : Ust. Qomaria, S.Pd.

 

(فصل) والسواك مستحب في كل حال إلا بعد الزوال للصائم وهو في ثلاثة مواضع أشد استحبابا: عند تغير الفم من أزم وغيره وعند القيام من النوم وعند القيام إلى الصلاة.

Artinya: Bersiwak itu hukumnya sunnah dalam setiap keadaan kecuali setelah condongnya matahari bagi yang berpuasa. Bersiwak sangat disunnah dalam 3 tempat yaitu (a) saat terjadi perubahan bau mulut; (b) setelah bangun tidur; (c) hendak melaksanakan shalat.

Demikian sekilas pembahasan dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.

Refleksi Sejarah Nabi dan Sahabat (Kitab Khulasoh Nurul Yaqin 2)

Mata Pelajaran            :Tarikh (Khulasoh Nurul Yaqin Juz 2)

Materi                          : Ringkasan Tahun Pertama

Pemateri                      : Ust. Misbah, S.Pd.I.

 

1.      Dalam tahun pertama Hijrah Rasulullah mendirikan Masjidnya yang mulia, dan dalam tahun itu diadakan Adzan.

2.      Dalam tahun itu pula orang orang Yahudi Madinah menampakkan permusuhannya terhadap kaum Muslimin, yang dibantu oleh orang-orang munafiq Madinah. Kemudian Rasulullah mengadakan perjanjian dengan mereka.

3.      Dalam tahun itu juga Rasulullah mengutus pamannya dengan satu sariyah, untuk menyerbu kafilah Quraisy. Setelah itu berturut-turutlah peperangan selanjutnya. Adapun peperangan di mana Rasulullah tiada ikutserta ada sejumlah 47 kali dan di mana beliau ikutserta ada sejumlah 27 kali.

4.      Pada tahun itu pula Rasulullah, Utsman bin Mazh‘un meninggaldunia. Setelah ditanam mayatnya itu, Rasulullah memerintahkan menyiram makam itu dengan air. Oleh beliau kemudian diletakkannya batu di atas makam itu seraya berkata: ’’Batu ini untuk menandai makam saudaraku”

Demikian sekilas pembahasan dalam kitab tersebut. Semoga menjadi menfaat bagi kita semua. Wallahu A’lamu bi Al-Showaab.

*Editor. Ust. Ahmad Asrori, S.H.